Setelah lulus kuliah di tahun 2022, saya belum benar-benar tahu harus melangkah ke mana. Untuk sementara waktu, saya hanya mengisi hari-hari dengan memotret teman-teman yang baru saja ujian. Dibayar beberapa rupiah—tidak besar, tapi lumayan untuk sekadar merasa tetap produktif.
Tak lama kemudian, saya “direkrut secara paksa” oleh seorang teman untuk bergabung dalam komunitas relawan kebersihan lingkungan. Jujur saja, saya tidak pernah benar-benar ikut kerja bakti membersihkan sudut-sudut kota. Namun, saya sempat mewakili komunitas tersebut dalam sebuah pelatihan fotografi. Dari sanalah saya mendapat banyak insight baru—tentang sudut pandang, tentang cerita, dan mungkin tanpa saya sadari, tentang perjalanan hidup yang juga butuh framing yang tepat.
Memasuki awal 2023, saya mendapat kesempatan membantu pendaftaran QR code subsidi BBM di salah satu SPBU di kota saya. Awalnya saya bekerja sendiri. Namun kemudian saya mengajak dua sahabat sejak masa kuliah—Arya dan Isra. Kami bekerja selama seminggu penuh, mulai pukul 5 sore hingga sekitar tengah malam. Waktu itu, pendaftaran QR code sedang membludak. Antrean panjang, warga datang silih berganti, dan kami harus tetap melayani hingga larut.
Setelah masa itu, saya melanjutkan pekerjaan di SPBU tersebut sebagai pengawas. Sementara Arya dan Isra memilih jalan mereka masing-masing—tidak memperpanjang kontrak. Total saya bekerja di sana selama satu tahun sepuluh bulan.
Banyak hal yang saya pelajari di tempat itu. Ada suka, tentu saja. Tapi duka juga tidak sedikit. Saya sering berhadapan dengan konsumen yang keras kepala, bahkan mencoba mencari celah untuk berbuat curang. Dari situ saya belajar satu hal penting: berani mempertahankan pendapat selama kita berada di pihak yang benar.
Saya juga bertemu banyak orang baru. Sebagian besar adalah para operator. Ada yang lebih dewasa dan saya anggap seperti kakak, ada yang sebaya, dan tidak sedikit yang lebih muda. Mereka datang dan pergi, silih berganti. Semua terasa menyenangkan—sampai pada satu titik saya mulai bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya ingin berada di sini selamanya?
Saya masih muda. Rasanya dunia terlalu luas untuk berhenti di satu tempat.
Di tengah kegelisahan itu, saya menemukan program Working Holiday Visa (WHV)—sebuah kesempatan untuk tinggal di Australia sambil bekerja dan berlibur. Beberapa teman sekelas dan senior saya sudah lebih dulu mencoba. Tiba-tiba, itu terasa seperti tantangan yang menarik.
Namun syaratnya tidak mudah. Salah satunya adalah skor IELTS minimal 4.5. Secara kemampuan saya tidak terlalu khawatir, tetapi biayanya cukup menguras dompet. Belum lagi syarat saldo mengendap minimal 5.000 dolar Australia. Saat membaca itu, reaksi saya sederhana: Oh my God.
Saya sempat nekat resign selama sebulan untuk fokus kursus persiapan IELTS. Di sela-sela itu, saya juga mendaftar program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Tak disangka, pengumuman kelulusan PPG keluar lebih dulu daripada progres persiapan WHV saya.
Di situlah kebimbangan muncul.
Australia terdengar seperti petualangan besar.
PPG terdengar seperti kepastian.
Karena saya bahkan belum mengambil tes IELTS sama sekali, akhirnya saya memilih yang sudah jelas di depan mata. Saya mengambil PPG dan menjalaninya selama satu tahun penuh.
Dan percayalah, perjalanan itu tidak kalah menarik dibanding mimpi ke Australia.
Tapi cerita tentang PPG… akan saya tulis di postingan berikutnya.
Ciao.
0 Komentar
Informasi
Berkomentarlah dengan bijak! Segala komentar yang mengandung sara, rasisme, pornografi dan lain sebagainya tidak akan dimuat.