ANEMOIA : Nostalgia pada masa yang tidak pernah dialami

Pernah nggak kamu tiba-tiba merasa kangen sama sesuatu yang bahkan belum pernah kamu alami langsung?

Nonton film jadul, dengerin lagu lawas, atau scroll foto hitam-putih, terus dada rasanya sesak. Bukan sedih biasa, tapi semacam rindu yang aneh. Padahal kamu nggak pernah hidup di masa itu.

Perasaan ini punya nama: Anemoia.

Kata yang keren dari The Dictionary of Obscure Sorrows. Artinya sederhana: nostalgia buat zaman yang nggak pernah kamu alami.

Saya sering banget ngerasain itu. Apalagi kalau lagi ngubek barang-barang lama di rumah: kaset pita yang mulai berjamur, komik bekas yang mulai menguning, atau kartu pos .

Dulu saya sering mikir, “Harusnya aku lahir di era 80-an.” Musiknya lebih ngena, komiknya lebih greget, orang-orang keliatan lebih nyambung tanpa layar HP.

Tapi sekarang saya sadar, mungkin bukan soal salah era. Mungkin cuma karena saya sempat ngerasain dunia yang masih bergerak pelan, sebelum semuanya jadi super cepat.

Saya besar di Palopo, Sulawesi Selatan. Sebuah kota kecil di pinggir teluk bone, nggak terlalu metropolitan, tapi juga bukan desa pelosok.

Ingat masa SD: main sampe sore, main hujan-hujanan bareng temen, rebutan remote TV buat ganti dari TVRI ke RCTI demi kartun Jepang.

Kartun favorit saya waktu itu adalah Petualangan Tintin dengan gambar khasnya yang bikin penasaran, Babar si Gajah yang penuh petualangan, Ninja Hatori atau Gegege no Kitaro yang malah seru meski tentang hantu.


Gambarnya semua sederhana, buatan tangan, warna flat, gerakan nggak mulus kayak sekarang. Tapi justru kesederhanaan itu yang bikin ada “jiwa”. Saya rindu goresan tangan manusia di setiap frame. Internet? Baru kenal pas kelas 5 SD di warnet. Suara modem berisik masih keinget. Loading foto bisa sejam. Speaker berkedut tiap ada telepon masuk.

Saya generasi transisi: masih main di luar sampe magrib, tapi juga mulai kenal Facebook dan game online jadul. Masih ngerasain hidup tanpa notifikasi 24/7. Kenangan terkuat justru dari perpustakaan sekolah yang kecil itu. Ada satu set ensiklopedia bergambar lawas, gambarnya seperti dilukis tangan, bukan foto HD. Saya bisa berjam-jam ngeliat ilustrasi tata surya pakai cat air, anatomi tubuh yang detail tapi nggak terlalu sempurna, atau binatang-binatang dunia yang keliatan kayak lukisan.


Bukan ilmunya yang bikin betah, tapi rasa hangat dari gambar buatan tangan. Setiap goresan terasa manusiawi, imajinasi jadi liar. Itu yang sekarang saya rindukan di era render digital.

Lalu saya nonton Reply 1988. Drama Korea tentang anak-anak muda di Seoul tahun 1988, tetangga akrab kayak keluarga, saling berbagi makanan, main di gang, nonton TV rame-rame. banyak adegan mirip masa kecil di Palopo: kebersamaan tetangga, main lupa waktu, hubungan tanpa perantara layar.

Di kota kecil seperti Palopo, modernisasi datang pelan. Jadi kita sempat nikmatin masa transisi yang hangat itu. Mereka rekam lagu dari radio pakai kaset, nulis surat cinta yang kadang nggak nyampe, nunggu episode komik mingguan. Dan saya cuma bisa bilang dalam hati: “Ini gue banget.”

Makanya saya ngoleksi kaset pita, komik lawas, dan mulai coba Postcrossing. Bukan sok vintage. Setiap kaset punya cerita, desis pita, sampul lusuh, bau kertas tua. Komik menguning bukan cacat, tapi tanda dia udah nemenin banyak orang. Postcrossing? Di era chat instan, saya rasa kirim kartu pos manual, nulis tangan, tempel prangko, nunggu berminggu-minggu lebih menarik. Lambat, tapi bermakna.


Dulu saya bilang “salah lahir”. Sekarang nggak lagi. Mungkin saya cuma pengen dunia jalan lebih pelan. Lebih hangat. Lebih manusiawi.

Pengen orang saling sapa tanpa sibuk scroll HP. Pengen ngerasain penantian nunggu surat, nunggu lagu di radio, nunggu komik baru.

Pengen lihat lagi gambar sederhana buatan tangan kayak Tintin, Babar, Ninja Hatori, ensiklopedia. Nggak sempurna, tapi penuh perasaan.

Palopo awal 2000-an jadi saksi saya sempat ngerasain itu semua. Main keluar sampe kotor, pulang dengan lumpur di kaki, nyari teman dari sendal di depan rumah atau sepeda mereka.

Jadi kalau kamu juga suka barang jadul, film lawas, musik era sebelum lahir, ilustrasi tangan sederhana, atau sering kangen masa yang nggak kamu lewati, tenang.

Kamu nggak aneh. Kamu cuma punya jiwa yang agak lebih tua dari badanmu.

Saya sekarang nggak lagi ngerasa “salah tempat”. Saya lebih suka bilang: saya penjelajah waktu. Hidup di 2026, tapi boleh bawa pulang kehangatan masa lalu lewat kaset usang, komik lapuk, kartu pos jauh, kenangan kota yang lambat tapi penuh, dan gambar-gambar sederhana yang nemenin saya besar.

Posting Komentar

0 Komentar